Childfree : Pilihan atau Ke-Tabuhan

Childfree : Pilihan atau Ke-Tabuhan. Sebuah isu yang sedang ramai diperbincangkan oleh warganet Indonesia setelah mendengar pernyataan yang dilontarkan oleh Cinta Laura di kanal YouTube/The Hermansyah A6 pada Agustus 2021 lalu. Cinta Laura menyatakan bahwa dia lebih memilih untuk tidak memiliki seorang anak secara biologis atau sebutannya childfree dengan alasan tidak ingin menambah populasi manusia, dan lebih memilih mengadopsi atau merawat anak yang terlantar. Hal itu membuat banyak perdebatan di kalangan masyarakat. Ada yang setuju dan ada pula yang mendukung lalu ikut-ikutan untuk melakukan hal tersebut. Apa sih sebenarnya childfree itu, dan kenapa ada pasangan suami-istri yang memutuskan untuk memilih pilihan itu ?. 


Istilah childfree berbeda dengan childless yang mana childfree itu sebuah pilihan dan keputusan yang dipilih oleh seorang wanita atau pria dan pasangannya untuk tidak memiliki anak atau keturunan secara biologis. Sedangkan childless merupakan sebuah keadaan yang mengharuskan wanita atau pria tidak bisa memiliki anak secara normal dan biologis karena suatu penyakit dan kelainan tertentu. Seseorang yang sudah memilih childfree adalah sebuah pilihan dengan banyak pertimbangan, tidak hanya masalah finansial saja, namun mereka juga memiliki pertimbangan dalam hal lainnya, seperti masalah kesehatan mental mereka, masa lalu mereka, kesehatan, keluarga, lingkungan, dan lainnya. 


Mungkin untuk di Indonesia dengan memilih childfree ini cukup tabu dan aneh di kalangan masyarakat. Namun di Amerika dan negara maju lainnya banyak wanita yang memilih untuk childfree dengan alasan bahwa mereka takut jika anak mereka nanti tidak bisa tumbuh dengan baik di dalam masyarakat, mereka takut jika salah dalam mendidik anak, mereka beranggapan bahwa jika memiliki seorang anak nantinya anaknya akan merasakan kejamnya kehidupan seperti yang mereka rasakan saat ini, dan bahkan ada pula yang beralasan tidak ingin menambah populasi manusia di dunia ini. Itu semua pilihan yang mereka pilih, dan bahkan ada pula wanita yang memilih untuk childfree namun tidak didukung oleh suaminya dan lebih memilih mundur atau bercerai. Hal-hal seperti itulah yang menjadi perdebatan dan dan pilihan itu yang mengharuskan adanya komunikasi yang baik antara kedua belah pihak maupun banyak pihak. 


Saya beranggapan bahwa tidak semua pasangan yang tidak memiliki anak secara biologis tidak bisa menjadi keluarga yang harmonis, utuh dan bahagia. Mereka bisa menjadi keluarga yang baik-baik saja dan bahagia karena itu pilihan mereka, mereka bisa melakukan apapun yang menjadi keinginan mereka tanpa membebani pikiran dengan merasa bahwa itu merupakan beban terbesar dan terberat di kehidupan mereka. Bisa saja pasangan itu memilih untuk merawat anak-anak di panti asuhan, anak terlantar, atau anak-anak dari keluarga yang kurang mampu dan tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untuk anak mereka. Itu semua pilihan, dan sebuah pilihan pastinya sudah melalui pertimbangan dan semua itu tidak ada yang salah. Bahkan saat ini banyak sekali para orang tua yang sudah menginjak usia senja malah tidak bisa mendapatkan kasih sayang dari anak-anak mereka, mereka merasa kesepian berada di rumah sendiri tanpa komunikasi dengan anak-anak mereka. 


Dengan memilih childfree seseorang tidak bisa dikatakan tidak ada kontribusi untuk negara, namun hal itu malah membantu negara dalam mengatasi populasi yang semakin membludak. Bahkan Indonesia saat ini berada di urutan ke 4 dunia yang mana memiliki populasi tertinggi dengan kurang lebih 271 juta jiwa. 


Ada beberapa buku yang khusus membahas mengenai childfree ini, yang paling terkenal yaitu The Baby Trap oleh Ellen Peck dan dari salah satu pendiri komunitas childfree di Indonesia yaitu Victoria Tunggono dengan bukunya berjudul Childfree & Happy


Sebuah keputusan untuk memiliki anak dan tidak memiliki anak itu tidak bisa menentukan seberapa besar kebahagiaan mereka untuk menjalani kehidupan rumah tangga dan keluarga. Yang menjalani kehidupan itu saya, kamu, kita, kalian dan mereka, yang tidak sama jalannya dan rintangannya, sehingga keputusan apapun itu yang berhak memilih dan menentukan ya kita sendiri, tanpa dipaksa maupun memaksa diri sendiri, pasangan dan orang lain. Kebahagiaan kita tidak ditentukan oleh pandangan orang lain dan keputusan kita tidak bisa ditentukan oleh orang lain pula. Sehingga, apapun keputusannya selama itu tidak merugikan orang lain, menyinggung orang lain dan melanggar hukum itu akan baik-baik saja. Mari lanjutkan kehidupan dengan tenang tanpa merasa terpojokkan dan hargai keputusan orang tanpa menyinggung perasaan. 


Jika kamu ingin menanyakan sesuatu atau butuh teman untuk sekedar berbagi kisah dan kasih saran mengenai tulisanku ini atau mau request untuk tulisan apa yang bisa aku bahas di blog ini, kamu bisa menghubungiku lewat kolom komentar, kirim pesan di e-mail atau bahkan kirim direct message di Instagram aku @yeopeulo. Terimakasih sudah menyempatkan membaca. 


#childfree #pilihan #happy #tabu #keluarga #wanita #karir #masadepan 

Comments

Popular Posts